Senin, 30 September 2019

KKL Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, PMIPA, FKIP, Universitas Cenderawasih

Pelepasan mahasiswa hingga seminar hasil KKL Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan PMIPA, FKIP, Universitas Cenderawasih. Saya diberi amanah untuk membimbing mahasiswa yang akan mengajar matematika di kelas 5 SD. FYI, KKL prodi P.Mat Uncen selalu dilaksanakan di SD dengan tujuan kami ingin memperkenalkan Matematika sebagai mata pelajaran yang menarik mulai dari tingkat sekolah dasar. Berikut beberapa foto kegiatan yang sempat terabadikan.






Rabu, 18 September 2019

Pelatihan Aplikasi Pembelajaran 4.0: Google Classroom dan Kahoot bagi Dosen-Dosen di Jurusan PMIPA FKIP Universitas Cenderawasih

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang kami lakukan di Jurusan PMIPA FKIP Uncen. PKM ini berupa pelatihan penggunaan media pembelajaran 4.0. Tujuannya untuk mempersiapkan diri memasuka Era Revolusi Industri 4.0/ Berikut beberapa dokumentasi kegiatan tersebut.






Sabtu, 31 Agustus 2019

Pengabdian Kepada Masyarakat: Pelatihan Analisis Data menggunakan SPSS bagi Mahasiswa FKIP Universitas Cenderawasih

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi aktivitas saya terkait salah satu dari Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. PKM kali ini berupa Pelatihan Analisis Data menggunakan SPSS bagi mahasiswa semester 6 FKIP Universitas Cenderawasih. Pelatihan ini bertujuan menambah pengetahuan mahasiswa terkait analisis data sebelum mereka menyusun tugas akhir yang erat kaitannya dengan analisis data. Berikut beberapa dokumentasi dari kegiatan tersebut.









Rabu, 19 Juni 2019

Halal Bihalal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih

Alhamdulillahirobbil'alamin, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan Rahmat dan Inayahnya sehingga kegiatan Halal Bihalal FKIP Uncen dapat terlaksana dengan baik. Pada kegiatan kali ini saya diamanahkan untuk membuat Grup Qasidah Mahasiswi FKIP Uncen. Waktu terbentuk dan latihan hanya sekitar kurang lebih 2 minggu, dan alhamdullillah Grup Qasidah kami dapat tampil dengan baik. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan tersebut.









dibalik penampilan Grup Qasidah yang sangat baik, ada proses dengan penuh tanggungjawab yang harus dilewati. 





Kamis, 02 Mei 2019

Kompetisi Matematika VI Tingkat SMP/MTs Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom

Salah satu agenda rutin tahunan di Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan PMIPA, FKIP, Universitas Cenderawasih, yaitu Kompetisi Matematika VI Tingkat SMP/MTs Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Pada kegiatan ini saya dipercayakan sebagai pembimbing mahasiswa sie soal. Berikut beberapa foto kebersamaan kami pada kegiatan tersebut.









Senin, 13 Januari 2014

Membangun Pengetahuan




Sebenar-benar filsafat adalah diriku sendiri. Jika aku Socrates maka ilmu itu adalah pertanyaan. Jika aku Perminedes maka bagiku ilmu itu tetap. Jika aku Heraclitos maka aku berkebalikan dengan Perminedes, bagiku ilmu itu berubah. Jika aku Aristoteles, maka ilmu itu adalah pengalaman. Jika aku Rene Descartes, maka ilmu itu adalah keraguan.  Jika aku David Hume, maka ilmu itu totalitas dari pengalamanku. Jika aku Immanuel Kant, maka ilmu itu adalah Keputusan. Jika aku Browner, maka ilmu itu adalah intuisi
Jika aku Hegel, maka ilmu itu adalah sejarah. Jika aku Wittganstein, maka ilmu itu adalah bahasa. Jika aku Einsten, maka bagiku ilmu itu relatif. Jika aku Russel, maka bagiku ilmu itu adalah logika. Jika aku Lakatos, maka ilmu itu adalah kesalahan-kesalahan
Jika aku August de comte, maka bagiku ilmu itu positif. Bagiku sumber kebenaran mutlak (absolut) adalah kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.. Amiin..
Ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah. Jika ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason". Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice". Prejudice adalah pengetahuanmku juga. Jika aku katakan pengetahuanku adalah hidupku, maka "prejudice" adalah hidupku juga.
Maka "menuju prejudice" adalah pegetahuanku atau logosku. Sedangkan "menjadi prejudice" adalah mitosku. Maka "bukan prejudice" itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya. Jadi ikklas dalam pikiranku adalah kesediaan dan kesiapanku membuat anti-tesis dari pengetahuanku. Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranku juga kesediaanku dan kesiapanku membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis. Itulah sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatku. Maka telah terbukti bahwa iklhas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri. Jika aku pikir filsafat adalah "bijak" ku maka ikhlas dalam pikir itu ternyata adalah juga "bijak" ku juga.
Ilmu bermodal ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal bertanya. Maka tiadalah kemampuan bertanya itu datang seketika dari langit, tiada pulalah hidup itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian juga adalah ikhtiar. Maka telah ditemukan bahwa ikhtiarku itulah hidupku. Dari ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup. Itulah setiap kata-kataku adalah puncak gunung es duniaku. Maka ilmuku adalah penjelasanku dari setiap puncak gunung es ku. Penjelasanku adalah ilmuku adalah filsafatku dan ternyata adalah ikhlas pikirku. Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri. Itulah yang sebenar-benar sedang aku hadapi. Belajar filsafat adalah usahaku menggapai ikhlas dalam pikirku.
Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu seperti kromosom pada genetika, yaitu mempunyai struktur, yang mana struktur tersebut sama dimanapun. Filsafat makro pada dunia mempunyai struktur yang sama dengan filsafat negara, kaum industrial trainer, kaum old humanis, serta sama dengan filsafatku. Yang berbeda hanya content dan metodenya. Struktur tersebut adalah ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi adalah hakekat. Epistimologi adalah metode. Sedangkan aksiologi adalah nilai atau norma yang berlaku dalam kehidupan manusia. Namun, sejatinya epistimologi tidak hanya metode, tetapi juga sumber pengetahuan, kebenaran ilmiah, pengembangan ilmu. Ontologi dan epistimologi tidak dapat saling dipisahkan. Ketika kita mengatakan hakekat maka itu ontologi. Hakekat tidak akan pernah bisa kita temukan kalau tidak dipikirkan. Memikirkan/mempelajari hakekat merupakan epistimologi. Hakekat merupakan ontologi, namun apa itu hakikat merupakan epistimologi. Epistimologi merupakan teori berpikir. Ketiga struktur tersebut sangat penting dan merupakan satu kesatuan. Semua yang kita pelajari (apa yang ditulis, dibicarakan) adalah epistimologi sehingga ada yang menyebut epistimologi dengan filsafat ilmu. Filsafat ilmu adalah filsafat itu sendiri. 
Berfilsafat itu berpikir yang reflektif yang mencakup olah pikir kita dan pengalaman kita, hanya bertanya saja sudah melakukan filsafat. Ada berpikir yang tidak memakai pengalaman dan juga pengalaman yang tidak memakai berpikir. Sebagian besar manusia tidak memikirkan pengalamannya dan tugas filsafat adalah memikirkan pengalaman-pengalaman tersebut.

Jumat, 08 November 2013

Rafleksi 6, Filsafat Ilmu

REFILSEP VI
(Sejarah aliran filsafat)

Semua berangkat pada yang ada dan yang mungkin ada. Berbagai macam sifat ada, yang ada bisa bersifat tetap yang dibawa oleh filsuf Permenides dan yang ada juga bisa juga bersifat berubah yang dibawa oleh filsuf Heraclitos. Dalam hal ada, ada unsur yang naik dan ada pula unsur yang turun, jika skemanya diurutkan dari bawah, maka terdiri dari dimensi material, dimensi formal, dimensi normatif, dan dimensi spiritual. Yang ada berjumlah satu untuk dimensi yang menyentuh spiritual (akhirat), dan yang ada berjumlah banyak untuk dimensi yang menyentuh material (dunia).
Aliran tersebut mengalir, kemudian yang ada itu bisa berada di dalam, dan bisa pula berada di luar. Jika berbicara yang ada bersifat tetap dan berubah, maka jika kita berbicara tentang ruang dan waktu, maka yang akan terjadi adalah pertengkaran. Numun karena dalam filsafat itu diperlukan adanya toleransi terhadap ruang dan waktu. Plato (idealism) adalah filsuf yang mendukung bahwa yang ada itu bersifat tetap, sedang kan muridnya yang bernama Aristoteles (realism) merupakan filsuf yang mendukung bahwa yang ada itu bersifat berubah. Muncullah dengan variasi monoism dan realism dan pluralism. Muncullah Rene Descartes (rasionalism), dan David Hume (empirism). Rene Descartes melanggengkan pendapat Permenides bahwa segala sesuatunya itu bersifat tetap. Muncullah juru damai dalam filsafat yaitu Immanuel Kant. Immanuel Kant mempunyai banyak aliran dalam filsafat. Immanuel Kant mengatakan bahwa sifat dari aliran yang dibawa oleh Rene Descartes adalah analitik a priori yang kebenarannya bersifat koherensi, sedangkan sifat dari aliran yang dibawa oleh David Hume adalah sintetik aposteriori yang kebenarannya bersifat korespondensi. Oleh karena itu, Immanuel Kant ilmu adalah gabungan antara pengalaman (sintetik) dan logika (analitik) sehingga menjadi sintetik apriori. Logika saja tanpa pengalaman adalah kosong, sedangkan pengalaman saja tanpa ilmu adalah buta. Oleh karena itu hakekat mencari ilmu adalah gabungan antara pengalaman dan logika agar kita tidak menjadi buta dan kosong. Oleh karena itu, matematika murni yang hanya mengandalkan analitik terancam sebagai bukan ilmu (hanya separuh ilmu).
Berselang beberapa abad tepatnya pada abad ke-19, lahirlah filsuf August Comte yang mengklaim bahwa dirinya adalah positivime. August Comte mengatakan bahwa cukup menggunakan logika dan ilmu pengetahuan saja untuk membangun masyarakat. August Comte mengatakan bahwa spiritualism adalah paling bawah tempatnya yang disusul oleh tradisionalism, dan selanjutnya adalah maju. Hal ini menyiratkan bahwa jika ingin maju maka tinggalkanlah spiritualism. Menurut August Comte, sebagian dari spiritualism itu bersifat irrasional. Dari sinilah muncul segala macam pengetahuan (logi) seperti biologi, sosiologi, antropologi, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Dimensi yang dibangun oleh August Comte berbenturan antara dunia barat dan dunia timur. Dimana dimensi pada dunia timur dimulai dari dimensi material, formal, normatif, dan spiritual, sedangkan dimensi pada dunia barat dimulai dari dimensi spiritual, tradisional, dan maju. Karena adanya benturan tersebut, mulailah perkembangan kemajuan teknologi yang disebut fase eksploitasi dunia (feudalism) dan penjajahan. Oleh karena perkembangan tersebut tanpa disadari telah menyusup ke berbagai dimensi kehidupan, maka muncullah yang dinamakan Power Now, dimana Power Now menganggap struktur dunia itu bukanlah masalah tulisan dan ucapan, tetapi bagaimana mewujudkannya dan mengisinya agar tidak menjadi kosong dan buta.
Power Now memandang bahwa masyarakat terendah adalah masyarakat archaic (masyarakat pada zaman batu), kemudian masyarakat tribal, kemudian masyarakat tradisional, kemudian masyarakat feodal, masyarakat modern, masyarakat post modern, masyarakat pos post modern (kontemporer/kehidupan sekarang). Inilah yang diperjuangkan oleh Power Now, sehingga tak terkendalilah kemajuan sekarang, sehingga terciptalah sitem yang tak terkendali. Hidup ini pun menjadi saling dajjal mendajjalkan.
Dengan empat pilar utama yaitu pilar neo kapitalism, neo utilitarian, neo pragmatism, dan neo hedonism, itulah yang digunakan untuk mengeksploitasi. Oleh karena itu kita sering menjumpai fenomena-fenomena yang tak terprediksi (unprediction). Sehingga diri kita sendiri telah berubah menjadi power now. Solusi dari fenomena-fenomena ini adalah selalu beristigfar (selalu mengingat Tuhan). Beristighfar dalam bertempur melawan power now, diperlukan metode yang dinamis, fleksibe, cerdas, kritis dan kreatif. Oleh karena itu, inilah pentingnya flsafat. Dengan filsafat kita dapat mengungkap semua hal itu menjadi sebuah kesadaran dan mengembalikannya pada diri kita masing-masing.
Kehidupan kita termasuk di dalamnya kebijak-kebijakan dan sebagainya sedang mengalami dilema unantivalensi termasuk pengembangan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 mengalami tekanan yang luar biasa untuk menyeimbangkan dengan kebutuhan power now, sehingga diberlakukannya metode sains dalam kurikulum tersebut. Kita tidak dapat mengutuk kurikulum tersebut, karena secara langsung maupun tidak langsung kita telah turut andil dalam kurikulum tersebut. Dunia ini bukanlah mengenai baik dan buruk atau benar dan salah, tetapi dunia ini ibarat siang dan malam yang saling membutuhkan. Tidak bisa lagi menggunakan cara tradisional dalam menyelesaikan masalah-masalah global (kontemporer).
Menurut filsafat ilmu itu ada dua, yaitu ilmu kealaman dan imu humaniora. Dan ilmu yang lainnya dijabarkan dari dua ilmu lainnya. Kurikulum 2013 hanya menghendaki ilmu alam saja dan melupakan ilmu humaniora. Ilmu humaniora tidak cocok untuk menggunakan metode saintifis. Hal inilah yang merupakan suatu nodus. Hal ini juga termasuk dalam fenomena power now.  Dewan power now adalah rasa ingin tahu yang tak terbatas.
Cara menyeimbangkan antara dimensi dalam kehidupan yang berbeda dengan kehidupan dalam dimensi yang berbeda. Orang barat menyeimbangkannya dengan menggunakan cara hermenetika dalam terjemah dan diterjemahkan terhadap yang ada dan yang mungkin ada. Orang timur menggunakan metode silaturahim dalam menerjemah dan diterjemahkan. Cara mentolerir gempuran sang power now dengan cara memanfaatkannya dengan hal yang baik dalam dimensi spiritual.