Salah satu agenda rutin tahunan di Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan PMIPA, FKIP, Universitas Cenderawasih, yaitu Kompetisi Matematika VI Tingkat SMP/MTs Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Pada kegiatan ini saya dipercayakan sebagai pembimbing mahasiswa sie soal. Berikut beberapa foto kebersamaan kami pada kegiatan tersebut.
Masih dalam proses menambah ilmu pengetahuan pada umumnya, dan ilmu pendidikan matematika pada khususnya.
Kamis, 02 Mei 2019
Senin, 13 Januari 2014
Membangun Pengetahuan
Sebenar-benar filsafat
adalah diriku sendiri. Jika aku Socrates maka ilmu itu adalah pertanyaan. Jika
aku Perminedes maka bagiku ilmu itu tetap. Jika aku Heraclitos maka aku
berkebalikan dengan Perminedes, bagiku ilmu itu berubah. Jika aku Aristoteles,
maka ilmu itu adalah pengalaman. Jika aku Rene Descartes, maka ilmu itu adalah
keraguan. Jika aku David Hume, maka ilmu
itu totalitas dari pengalamanku. Jika aku Immanuel Kant, maka ilmu itu adalah
Keputusan. Jika aku Browner, maka ilmu itu adalah intuisi
Jika aku Hegel, maka ilmu itu adalah sejarah. Jika aku Wittganstein, maka ilmu itu adalah bahasa. Jika aku Einsten, maka bagiku ilmu itu relatif. Jika aku Russel, maka bagiku ilmu itu adalah logika. Jika aku Lakatos, maka ilmu itu adalah kesalahan-kesalahan
Jika aku August de comte, maka bagiku ilmu itu positif. Bagiku sumber kebenaran mutlak (absolut) adalah kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.. Amiin..
Jika aku Hegel, maka ilmu itu adalah sejarah. Jika aku Wittganstein, maka ilmu itu adalah bahasa. Jika aku Einsten, maka bagiku ilmu itu relatif. Jika aku Russel, maka bagiku ilmu itu adalah logika. Jika aku Lakatos, maka ilmu itu adalah kesalahan-kesalahan
Jika aku August de comte, maka bagiku ilmu itu positif. Bagiku sumber kebenaran mutlak (absolut) adalah kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.. Amiin..
Ikhlas dalam
pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah. Jika ikhlas dalam filsafat adalah
ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure
reason". Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari
"prejudice". Prejudice adalah pengetahuanmku juga. Jika aku katakan
pengetahuanku adalah hidupku, maka "prejudice" adalah hidupku juga.
Maka
"menuju prejudice" adalah pegetahuanku atau logosku. Sedangkan
"menjadi prejudice" adalah mitosku. Maka "bukan prejudice"
itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya. Jadi ikklas dalam
pikiranku adalah kesediaan dan kesiapanku membuat anti-tesis dari
pengetahuanku. Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranku juga kesediaanku
dan kesiapanku membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis. Itulah
sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatku. Maka telah terbukti bahwa iklhas
dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri. Jika
aku pikir filsafat adalah "bijak" ku maka ikhlas dalam pikir itu
ternyata adalah juga "bijak" ku juga.
Ilmu bermodal
ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal
bertanya. Maka tiadalah kemampuan bertanya itu datang seketika dari langit,
tiada pulalah hidup itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian
juga adalah ikhtiar. Maka telah ditemukan bahwa ikhtiarku itulah hidupku. Dari
ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup. Itulah setiap kata-kataku adalah puncak
gunung es duniaku. Maka ilmuku adalah penjelasanku dari setiap puncak gunung es
ku. Penjelasanku adalah ilmuku adalah filsafatku dan ternyata adalah ikhlas
pikirku. Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata
filsafat itu sendiri. Itulah yang sebenar-benar sedang aku hadapi. Belajar
filsafat adalah usahaku menggapai ikhlas dalam pikirku.
Filsafat
adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu seperti kromosom pada
genetika, yaitu mempunyai struktur, yang mana struktur tersebut sama dimanapun.
Filsafat makro pada dunia mempunyai struktur yang sama dengan filsafat negara,
kaum industrial trainer, kaum old humanis, serta sama dengan filsafatku. Yang
berbeda hanya content dan metodenya. Struktur tersebut adalah
ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi adalah hakekat. Epistimologi
adalah metode. Sedangkan aksiologi adalah nilai atau norma yang berlaku dalam
kehidupan manusia. Namun, sejatinya epistimologi tidak hanya metode, tetapi
juga sumber pengetahuan, kebenaran ilmiah, pengembangan ilmu. Ontologi dan
epistimologi tidak dapat saling dipisahkan. Ketika kita mengatakan hakekat maka
itu ontologi. Hakekat tidak akan pernah bisa kita temukan kalau tidak
dipikirkan. Memikirkan/mempelajari hakekat merupakan epistimologi. Hakekat
merupakan ontologi, namun apa itu hakikat merupakan epistimologi. Epistimologi
merupakan teori berpikir. Ketiga struktur tersebut sangat penting dan merupakan
satu kesatuan. Semua yang kita pelajari (apa yang ditulis, dibicarakan)
adalah epistimologi sehingga ada yang menyebut epistimologi dengan filsafat
ilmu. Filsafat ilmu adalah filsafat itu sendiri.
Berfilsafat itu berpikir yang reflektif yang
mencakup olah pikir kita dan pengalaman kita, hanya bertanya saja sudah
melakukan filsafat. Ada berpikir yang tidak memakai pengalaman dan juga
pengalaman yang tidak memakai berpikir. Sebagian besar manusia tidak memikirkan
pengalamannya dan tugas filsafat adalah memikirkan pengalaman-pengalaman
tersebut.
Jumat, 08 November 2013
Rafleksi 6, Filsafat Ilmu
REFILSEP
VI
(Sejarah
aliran filsafat)
Semua
berangkat pada yang ada dan yang mungkin ada. Berbagai macam sifat ada, yang
ada bisa bersifat tetap yang dibawa oleh filsuf Permenides dan yang ada juga bisa
juga bersifat berubah yang dibawa oleh filsuf Heraclitos. Dalam hal ada, ada
unsur yang naik dan ada pula unsur yang turun, jika skemanya diurutkan dari
bawah, maka terdiri dari dimensi material, dimensi formal, dimensi normatif,
dan dimensi spiritual. Yang ada berjumlah satu untuk dimensi yang menyentuh
spiritual (akhirat), dan yang ada berjumlah banyak untuk dimensi yang menyentuh
material (dunia).
Aliran
tersebut mengalir, kemudian yang ada itu bisa berada di dalam, dan bisa pula
berada di luar. Jika berbicara yang ada bersifat tetap dan berubah, maka jika
kita berbicara tentang ruang dan waktu, maka yang akan terjadi adalah
pertengkaran. Numun karena dalam filsafat itu diperlukan adanya toleransi
terhadap ruang dan waktu. Plato (idealism) adalah filsuf yang mendukung bahwa
yang ada itu bersifat tetap, sedang kan muridnya yang bernama Aristoteles
(realism) merupakan filsuf yang mendukung bahwa yang ada itu bersifat berubah.
Muncullah dengan variasi monoism dan realism dan pluralism. Muncullah Rene
Descartes (rasionalism), dan David Hume (empirism). Rene Descartes
melanggengkan pendapat Permenides bahwa segala sesuatunya itu bersifat tetap.
Muncullah juru damai dalam filsafat yaitu Immanuel Kant. Immanuel Kant
mempunyai banyak aliran dalam filsafat. Immanuel Kant mengatakan bahwa sifat
dari aliran yang dibawa oleh Rene Descartes adalah analitik a priori yang
kebenarannya bersifat koherensi, sedangkan sifat dari aliran yang dibawa oleh
David Hume adalah sintetik aposteriori yang kebenarannya bersifat korespondensi.
Oleh karena itu, Immanuel Kant ilmu adalah gabungan antara pengalaman
(sintetik) dan logika (analitik) sehingga menjadi sintetik apriori. Logika saja
tanpa pengalaman adalah kosong, sedangkan pengalaman saja tanpa ilmu adalah
buta. Oleh karena itu hakekat mencari ilmu adalah gabungan antara pengalaman
dan logika agar kita tidak menjadi buta dan kosong. Oleh karena itu, matematika
murni yang hanya mengandalkan analitik terancam sebagai bukan ilmu (hanya
separuh ilmu).
Berselang
beberapa abad tepatnya pada abad ke-19, lahirlah filsuf August Comte yang
mengklaim bahwa dirinya adalah positivime. August Comte mengatakan bahwa cukup
menggunakan logika dan ilmu pengetahuan saja untuk membangun masyarakat. August
Comte mengatakan bahwa spiritualism adalah paling bawah tempatnya yang disusul
oleh tradisionalism, dan selanjutnya adalah maju. Hal ini menyiratkan bahwa
jika ingin maju maka tinggalkanlah spiritualism. Menurut August Comte, sebagian
dari spiritualism itu bersifat irrasional. Dari sinilah muncul segala macam
pengetahuan (logi) seperti biologi, sosiologi, antropologi, dan ilmu
pengetahuan lainnya.
Dimensi
yang dibangun oleh August Comte berbenturan antara dunia barat dan dunia timur.
Dimana dimensi pada dunia timur dimulai dari dimensi material, formal, normatif,
dan spiritual, sedangkan dimensi pada dunia barat dimulai dari dimensi
spiritual, tradisional, dan maju. Karena adanya benturan tersebut, mulailah
perkembangan kemajuan teknologi yang disebut fase eksploitasi dunia (feudalism)
dan penjajahan. Oleh karena perkembangan tersebut tanpa disadari telah menyusup
ke berbagai dimensi kehidupan, maka muncullah yang dinamakan Power Now, dimana
Power Now menganggap struktur dunia itu bukanlah masalah tulisan dan ucapan,
tetapi bagaimana mewujudkannya dan mengisinya agar tidak menjadi kosong dan
buta.
Power
Now memandang bahwa masyarakat terendah adalah masyarakat archaic (masyarakat
pada zaman batu), kemudian masyarakat tribal, kemudian masyarakat tradisional,
kemudian masyarakat feodal, masyarakat modern, masyarakat post modern,
masyarakat pos post modern (kontemporer/kehidupan sekarang). Inilah yang
diperjuangkan oleh Power Now, sehingga tak terkendalilah kemajuan sekarang,
sehingga terciptalah sitem yang tak terkendali. Hidup ini pun menjadi saling
dajjal mendajjalkan.
Dengan
empat pilar utama yaitu pilar neo kapitalism, neo utilitarian, neo pragmatism,
dan neo hedonism, itulah yang digunakan untuk mengeksploitasi. Oleh karena itu
kita sering menjumpai fenomena-fenomena yang tak terprediksi (unprediction). Sehingga diri kita
sendiri telah berubah menjadi power now. Solusi dari fenomena-fenomena ini
adalah selalu beristigfar (selalu mengingat Tuhan). Beristighfar dalam
bertempur melawan power now, diperlukan metode yang dinamis, fleksibe, cerdas,
kritis dan kreatif. Oleh karena itu, inilah pentingnya flsafat. Dengan filsafat
kita dapat mengungkap semua hal itu menjadi sebuah kesadaran dan
mengembalikannya pada diri kita masing-masing.
Kehidupan
kita termasuk di dalamnya kebijak-kebijakan dan sebagainya sedang mengalami
dilema unantivalensi termasuk
pengembangan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 mengalami tekanan yang luar biasa
untuk menyeimbangkan dengan kebutuhan power now, sehingga diberlakukannya
metode sains dalam kurikulum tersebut. Kita tidak dapat mengutuk kurikulum
tersebut, karena secara langsung maupun tidak langsung kita telah turut andil
dalam kurikulum tersebut. Dunia ini bukanlah mengenai baik dan buruk atau benar
dan salah, tetapi dunia ini ibarat siang dan malam yang saling membutuhkan. Tidak
bisa lagi menggunakan cara tradisional dalam menyelesaikan masalah-masalah
global (kontemporer).
Menurut
filsafat ilmu itu ada dua, yaitu ilmu kealaman dan imu humaniora. Dan ilmu yang
lainnya dijabarkan dari dua ilmu lainnya. Kurikulum 2013 hanya menghendaki ilmu
alam saja dan melupakan ilmu humaniora. Ilmu humaniora tidak cocok untuk
menggunakan metode saintifis. Hal inilah yang merupakan suatu nodus. Hal ini
juga termasuk dalam fenomena power now.
Dewan power now adalah rasa ingin tahu yang tak terbatas.
Cara
menyeimbangkan antara dimensi dalam kehidupan yang berbeda dengan kehidupan
dalam dimensi yang berbeda. Orang barat menyeimbangkannya dengan menggunakan
cara hermenetika dalam terjemah dan diterjemahkan terhadap yang ada dan yang
mungkin ada. Orang timur menggunakan metode silaturahim dalam menerjemah dan
diterjemahkan. Cara mentolerir gempuran sang power now dengan cara
memanfaatkannya dengan hal yang baik dalam dimensi spiritual.
Refleksi 5, Filsafat Ilmu
REFILSEP
V
Bagaimana
agar dapat mengaturnya dan mengambil alih kembali filsafat keraguan dalam
kehidupan yang telah meraja lela.
Filsafat adalah
olah pikir. Olah pikir memang disarankan untuk keragu-raguan, namun jangan
merasa ragu di dalam hati. Jadikanlah hati sebagai komandan dari pikiran.
Intensifkan spiritual dalam menggapai hati yang tidak ada keragu-raguan. Jika
ada keraguan dalam hati, maka itulah godaan syaitan.
Bagaimana
para filsuf menyampaikan filsafatnya, sehingga para filsuf terkenal sampai
sekarang.
Para filsuf
tidak pernah memikirkan bahwa ia sedang berfilsafat. Seperti Socrates yang
mencari kebenaran, apa yang dipikirkan oleh Socrates adalah metodologi
filsafat, yaitu dengan terus mengajukan pertanyaan hingga yang ditanya tak bisa
menjawab. Immanuel Kant sekedar mencari kebenaran. Kaum empiris tokohnya David Hume,
kaum rasional tokohnya Rene Descartes. Para filsuf menyampaikan filsafat mereka
dengan cara menulis, sehingga kita bisa mengenal mereka melalui
tulisan-tulisannya.
Bagaimana
cara filsuf menyebarkan filsafat mereka.
Para filsuf
menyebarkan filsafat mereka dengan cara berkarya. Dari tulisan-tulisan mereka
yang mampu mengubah pola pikir manusia sehingga mereka menjadi terkenal sampai
sekarang, karena mereka mampu menangkap berbagai fenomena dan menuangkan dalam
bentuk tulisan-tulisan yang kemudian dibaca oleh banyak orang.
Sebagai
dosen atau guru, filsafat apa yang sebaiknya dipilih.
Sebagai pemula,
belum bisa dikatakan memilih, sama saja dengan orang yang belum pernah pergi
kemana-mana, tidak tahu harus menggunakan kendaran apa. Syarat untuk bisa
memilih adalah kenal, punya pengetahuan dan mampu. Sebagai guru atau dosen,
bukan alirannya yang penting, tetapi adalah implikasi-implikasi yang
bermanfaat. Jikalau kemudian seseorang telah profesional dan mampu mempelajari
fikiran filsafat, maka sudah bisa memilih arah dan aliran filsafatnya.
Fisafat
terus berkembang sampai sekarang, bagaimana filsafat dapat mendominasi
kehidupan manusia.
Immanuel Kant
adalah filsuf paling lengkap aliran filsafatnya. Jika kita membahas tentang
filsuf Socrates, maka pasti kita akan bertemu dengan filsuf Immanuel Kant. Jika
kita membahas tentang Plato, maka kita akan membahas juga tentang Socrates.
Itulah filsafat yang lebih cair dari pada air, dan lebih menguap dari pada uap.
Itulah cepatnya filsafat, apalagi Sang Pencipta yang menciptakan manusia yang
mampu untuk berfilsafat.
Bagaimana
cara mentranformasikan atau menyampaikan ilmu filsafat yang tepat agar tidak
dianggap egois dan sesuai dengan wadahnya.
Filsafat itu
tidak disampaikan, tetapi filsafat itu kita sendiri yang membangunnya dengan
cara banyak membaca. Jika fikiran kita masih dalam hal meminta, maka kita belum
bisa keluar oleh bayang-bayang idola, sehingga kita belum dapat sampai pada
suatu hakekat.
Apa
ada hubungan antara berfikir filsafat dengan aliran liberal.
Liberalisme
adalah aliran politik, termasuk pada fundamentalisme juga termasuk di dalamnya.
Politikus di Indonesia, ada yang mengatakan dan tidak ada yang membetulkan. Ia
mengatakan bahwa demokrasi kita adalah liberal, maka secara substansi ia telah
kehilangan makna pancasila. Dalam implementasinya, demokrrasi pancasila kita
masih sulit ditemukan di Indonesia.
Kita
bisa mengetahui tanpa menghafal, tetapi kita juga dengan mudah melupakannya.
Meurut filsuf
Browner, hakekat ilmu adalah intuisi. Dalam intuisi dikenal intuisi ganda.
Manusia mampu beraktivitas dan bekerja dikarenakan manusia mempunyai intuisi
ganda. Hal-hal biasa dalam kehidupan kita sebaiknya diusahakan sendiri dengan
menggunakan intuisi keruangan dan intuisi waktu yang kita miliki tanpa
menggunakan alat ataupun kecanggihan teknologi.
Bagaimana
seharusnya kita bisa menyikapi aliran para filsuf.
Kita tidak akan
mampu menyikapi berbagai aliran para filsuf jika kita belum mengetahui
aliran-aliran filsafat tersebut. Aliran para filsuf juga berhubungan satu sama
lain. Jangankan menyikapi aliran para filsuf, yang ada dan yang mungkin ada
juga berhubungan.
Di
dalam filsafat memerlukan pikiran filsuf terdahulu, bagaimana dengan pikiran
dari filsuf yang baru.
Permenides
berpendapat bahwa hakekat ilmu adalah tetap, namun kemudian ditentang oleh
Heraclitos bahwa hakekat ilmu adalah berubah. Yang tetap adalah pikiran kita
tentang ilmu, dan yang tetap adalah manusia sebagai ciptaan Tuhan. Yang berubah
adalah empiris yang juga berupa pengalaman. Hidup ini mempunyai modus, dan
modus itulah yang mewadahi sikap dan perilaku kita sebagai manusia. Itulah
sebabnya mengapa hidup itu membutuhkan kanopi. Tidak perlu manusia mengungkap
aib ataupun keburukannya sendiri.
Mengapa
sulit sekali menghilangkan kesombongan.
Kesombongan itu
tergantung pada wadahnya. Ada kesombongan yang baik, namun ada juga kesombongan
yang buruk. Jadi diperlukan pemahaman yang sangat luas disertai hati yang
bersih untuk mampu menempatkan kesombongannya.
Minggu, 13 Oktober 2013
Refleksi 4, Filsafat Ilmu
REFILSEP IV
Alam semesta terbuat dari apa?
Tuhan itu mendahului segala sesuatu. Mendahului
apa-apa yang diciptakan. Manusia mempunyai sejarah yang terbatas. Sebenar-benar
sejarah adalah milik Tuhan. Apalah manusia mengerti sejarah dirinya, manusia
sebenarnya tidak mengetahui dirinya walaupun hanya satu titik. Tuhan itu mendahului
segala sesuatu. Mendahului segala sesuatu yang diciptakannya. Jadi Tuhanlah
yang mempunyai sejarah. Manusia sejarahnya sangat terbatas dan relatif. Tuhanlah
yang mengetahui semua sejarah dari yang ada dan yang mungkin ada.
Ketika kita melakukan olah pikir dan olah
hati, maka kita menggunakan spiritual. Ketika menggunakan olah hati, maka
manusia yang bersifat tidak sempurna, mempunyai wilayah penekanan-penekanan di
dalamnya. Ada kalanya ketika kita berada, kita masih menggunakan otak kita, tetapi
jika kita mengintensifkan spiritual kita, maka kita harus menghentikan olah
pikir kita. Pengetahuan spiritual manusia bisa tinggi dan rendah, namun kualitas
dalam spiritual kita hanya Tuhanlah yang tahu.
Alam semesta terbuat dari apa, merupakan
misteri Tuhan. Manusia hanya mempunyai batas tertentu dalam berpikir, jika
manusia mengetahui Alam semesta terbuat dari apa, maka sesungguhnya manusia
mulai mengenal misteri Tuhan. Kendalikanlah pikiran kita menggunakan hati kita.
Tetapkanlah hati kita sebagai komandan kita. Sebenar-benarnya dan
semampu-mampunya berfilsafat adalah menjelaskan.
Apa yang kita peroleh dan apa yang kita
baca, itulah yang kita gunakan sebagai awal dari pemaham kita. Jangan mudah
merasa sombong atas apa yang sedah kita peroleh. Berfilsafat itu adalah mencari
hakekat. Pengalaman adalah separuh dari ilmu, separuhnya lagi adalah
memikirkannya. Ilmu bukanlah sesuatu yang instan.
Perlukah menghafal dalam belajar filsafat?
Metode menghafal adalah metode yang naïf bin
konyol. Karena metode tersebut tidak mencapai sasaran. Sasaran dari
pembelajaran adalah pemahaman. Tujuan dari belajar adalah bagaimana caranya
yang mungkin ada menjadi ada.
Apakah ada tokoh filsafat yang baru?
Filsafat itu berdimensi, sehingga tokohnya
juga berdimensi. Pikirannya juga berdimensi. Dimensi itu menyangkut struktur. Strukturnya
menyangkut yang ada dan yang mungkin ada. Hal ini menyangkut salah satu
struktur dari bermilyar-milyar struktur yang ada. Ada filsafat material,
formal, normati, dan spiritual. Bentuk-bentuk materialnya berbentuk Buku-bukunya,tulisannya,
dan sebagainya, tokoh-tokoh formal Plato, Socrates, Rene Descartes, Immanuel
Kant, Russel, dan yang lainnya, sedangkan tokoh-tokoh normatifnya adalah
pikiran-pikirannya para filsuf dan ide-idenya. Dalam berfilsafat, maka diri
kitalah tokoh substansi dari filsafat kita. Fungsi dari belajar filsafat adalah
membebaskan pikiran kita dari keterkungkungan tokoh-tokoh lain dalam hal
metodologi berpikirnya sesuai dengan dimensi ruang dan waktunya.
Apa beda antara kebanggaan dan kesombongan?
Manusia itu tidak sempurna dan mempunyai
banyak kesalahan dan kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah manusia tidak
bisa terisolasi. Manusia itu terbatas. Karena keterbatasannya maka manusia
menemukan arti hidupnya. Sesungguhnya manusia itu multiwajah ketika di dunia. Namun
jika kita kembali ke langit, maka manusia hanyalah satu, yaitu kekuasaannya. Begitu
turun ke dunia, maka manusia adalah multifacet (plural). Manusia tak pernah mencapai
namanya. Hanya Tuhanlah yang sama dengan nama-Nya. Bangga dan kesombongan lebih
ke bentuk wadahnya. Bangga dan sombong sama-sama menjadi predikat dari suatu
subyek.
Mengapa
pengetahuan bisa muncul dari keragu-raguan?
Tokoh bersejarah dari paham keragu-raguan
adalah ilmu adalah Rene Descartes. Padahal, rene Descartes meragukan semuanya
tanpa terkecuali termasuk Tuhan. Keragu-raguannya itu dalam rangka menemukan
Tuhan. Ragu-ragu juga berdimensi. Ragu-ragu bisa menjadi ilmu karena setelah
meragukan sesuatu maka ketemulah pengetahuan.
Bagaimana cara membedakan penjelasan
mengenai material, formal, normatif, dan spiritual dalam berfilsafat?
Dalam mempelajari filsafat, apalagi untuk
membedakan berbagai dimensi, tidaklah seinstan yang kita pikirkan. Material,
formal, normatif, dan spiritual mempunyai dimensinya masing-masing. Susahnya memahami
bahasa analog sama halnya dengan membedakan dimensi tersebut. Memahami perbedaan
dari dimensi memanglah sulit, sama halnya dengan tidak mudahnya memahami bahasa
analog. Inilah cara berkomunikasi antara dimensi.
Kamis, 10 Oktober 2013
Refleksi 3, Filsafat Ilmu
REFILSEP
III
Bisakah
kita mengetahui filsafat seseorang itu seperti apa?
Tidak ada seorang filsuf
yang mengaku bahwa dirinya filsuf. Contohnya Immanuel Kant adalah seorang rasionalism,
empirisism, transcendentalism, dan seterusnya, tergantung pada karya-karyanya. Rene
Descartes bisa seorang rasionalism karena mengandalkan rasio, tetapi juga
seorang sceptisism karena memperoleh pengetahuan melalui keragu-raguan, dan
seterusnya. Tidaklah seorang di dunia ini yang mengaku bahwa ia telah menguasai
filsafat.
Bagaimana
peran filsafat terhadap ilmu yang lainnya?
Semua yang ada dan yang
mungkin ada pasti mempunyai hakekatnya sendiri-sendiri. Sehingga setiap ilmupun
pasti mempunyai hubungan dengan filsafat.
Mengapa
matematika bukan ilmu?
Menurut Immanuel Kant, ilmu
terdiri dari dua hal, yaitu logika dan pengalaman. Keduanya saling bersinergi
dan saling menyokong. Pikiran harus disertai dengan pengalaman, dan pengalaman
harus disertai dengan pemikiran. Dalam matematika, kebanyakan hanya berpikir
saja, tanpa melakukan banyak pengalaman. Sehingga matematika itu barulah
separuh ilmu. Ilmu yang kokoh atau ilmu yang seutuhnya adalah yang menggunakan
logika dan pengalaman dalam memperoleh ilmu tersebut. Berfilsafat adalah
kemampuan menjelaskan, menerangkang, berpikir logika dalam menjelaskan pengalaman.
Berfilsafat itu melihat secara keseluruhan, mengambil satu titik yang mewakili
keseluruhannya menggunakan metode reduksionisme.
Apakah
kita bisa mengukur kemampuan berfilsafat?
Berfilsafat sesuai dengan
dimensinya. Setiap dimensi mempunyai
bahasanya masing-masing. Berfilsafat itu sangat halus dan sangat lembut. Seseorang
tak bisa diukur filsafatnya, tak ada yang mampu mengetahui bahwa ia telah
memahami filsafat.
Diperoleh
dari mana istilah-istilah dalam filsafat?
Istilah-istilah dalam
filsafat diperoleh dari semua hal yang ada dan yang mungkin ada. Belajar filsafat
adalah sopan dan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada. Sopan dan
santun bisa diraih dengan mengerti dan memahami apa yang kita pelajari. Membacalah,
karena dengan membaca kita telah mengadakan yang mungkin ada. Dalam menuntut
ilmu, kenakanlah substansi dalam berfilsafat.
Apakah
hukum dunia menurut filsafat?
Menurut filsafat, dunia
mempunyai dua hukum, yaitu hukum identitas dan hukum bukan identitas (hukum
kontradiksi). Hukum identitas akan termakan oleh hukum kontradiksi jika dia sensitif
terhadap ruang dan waktu. Contoh, 2 + 3 =5 akan menjadi benar jika terbebas
dari ruang dan waktu. Ruang adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Secara
filsafat 2 = 2 akan terjadi kontradiksi, karena tidak ada segala sesuatu yang dapat
menempati waktu dan ruang dalam waktu dan ruang yang sama. Tidak adalah segala
sesuatu yang sama dengan namanya sendiri, kecuali Allah SWT yang sama dengan
nama-Nya.
Rabu, 02 Oktober 2013
Refleksi 2, Filsafat Ilmu
REFILSEP II
Berfilsafat
tidak berawal dari sesuatu yang sulit, tetapi berfilsafat berawal dari sesuatu
yang wajar-wajar saja yang melekat pada diri kita masing-masing. Berfilsafat adalah
olah pikir. Berfilsafat berarti mengembarakan pikiran kita. Berfilsafat juga
berarti bersyukur bahwa kita masih diberi kemampuan untuk hidup dan
menghidupkan, karena filsafat itu hidup dan menghidupkan.
Bagi
sebagian besar dari kita merasa filsafat itu sangatlah sulit untuk dimengerti. Sehingga
muncullah keinginan untuk mengetahui bagaimana cara menjawab pertanyaan secara
filsafat. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam konteks filsafat dari
setiap orang pasti berbeda-berbeda tergantung pada dimensi ruang dan waktunya. Filsafat itu sensitif terhadap ruang dan
waktu, artinya kita sadar bahwa ada dimensi vertikal (hubungan kita kepada
Tuhan) dan dimensi horisontal (hubungan kita dengan sesama makhluk ciptaan
Tuhan meliputi yang ada dan yang mungkin ada).
Dimensi
itu rumit, komleks, dan saling tali temali. Dalam filsafat, bukanlah jawaban
yang dipentingkan melainkan bagaimana penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan
tersebut. Seperti contohnya pertanyaan mengenai mengapa air mineral dalam
kemasan gelas itu tidak tumpah? Hal ini disebabkan karena holistik. Mengapa disebut
holistik? Karena untuk mencari kesempurnaan. Oleh karena itu, semua sisi dan
sudutnya terdapat kesempurnaan sehingga air dalam kemasan gelas itu tidak mudah
tumpah.
Hidup
yang indah itu adalah hidup yang komprehensif dan holistik. Hidup yang tak
karuan dan tak seimbang itu adalah hidup yang parsial. Segala sesuatu yang telah
terjadi disebut takdir. Segala sesuatu yang belum terjadi disebut ikhtiar. Tuhan
selalu memberikan keseimbangan dalam hidup ini, oleh karena itu ada ekuilibrium
dalam hidup ini agar tak terjadi suatu kesenjangan dan tak keseimbangan. Oleh
karena ittu, manusia selayaknya senantiasa memohon ampun, agar senantiasa
berada dalam tuntunan dan ridho Allah SWT sehingga senantiasa dapat
menyeimbangkan hidup. Salah satu contoh menyeimbangkan hidup adalah memiliki
pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas.
Bagaimana
cara memahami filsafat. Pertanyaan itu sering muncul pada diri yang sedang
mempelajari filsafat. Filsafat itu terdiri dari dimensi material, formal, normatif,
dan spiritual. Oleh karena itu, jika filsafat telah menyentuh dimensi
spiritual, maka filsafat itu harus berhenti. Refleksi dari pengalaman suatu
pengetahuan adalah gabungan antara logika, rasionalitas, dan pengalaman itu
sendiri sehingga senantiasa terjadi tesis dan anti tesis dalam pengetahuan.
Menjawab
secara filsafat juga harus meriver kepada pikiran para filsuf. Contoh kecilnya
adalah suatu pertanyaan mengapa kita kuliah? Menurut filsuf Plato, kita kuliah
kareana sesuatu yang diideliskan atau dicita-citakan. Plato mengemukakan bahwa
segala sesuatu yang ia pikirkan bersifat idealis, tetapi yang nampak hanyalah
contoh saja, tak ada yang sempurna. Mengapa tak ada yang sempurna? Karena kesempurnaan
hanyalah milik Allah SWT.
Mengapa
dalam kebaikan ada keburukan? Karena relatif. Mengapa dalam keburukan ada
kebaikan? Karena relatif terhadap dimensi ruang dan waktu. Filsafat adalah
akumulasi, sehingga setiap kata mewakili dunianya sendiri, dan setiap dunia
terkarakterisasi oleh kata-kata maupun kalimat yang mengkarakterkan dunia itu
sendiri. Contoh paling sederhanya adalah mengapa manusia menangis? Jawaban-jawaban
yang mungkin muncul dari pertanyaan tersebut adalah jawaban-jawaban yang
mewakili duanianya masing-masing. Contohnya, dalam sudut pandang filsafat,
menangis karena kuasa maupun tak kuasa. Dalam sedut pandang spiritual, menangis
karena khusyuk. Dalam sudut pandang psikologi, menangis karena perasaan. Dalam sudut
pandang ekonomi, menangis karena tak mempunyai uang. Dalam sudut pandang
politik, menangis karena kegagalan daam suatu koalisi. Dalam sudut pandang
pendidikan, menangis karena tak berilmu, dan masih banyak lagi penyebab
menangis dari berbagai sudut pandang yang meliputi segala sesuatu yang ada dan
yang mungkin ada.
Dalam
filsafat, nenek moyang para filsuf adalah Herakritos dan Permenides. Menurut Herakritos,
segala sesuatu itu berubah, dan menurut Permenides, segala sesuatu itu tetap. Segala
sesuatu yang berubah menurut Herakritos meliputi perasaan maupun wujud dari
yang ada dan yang mungkin ada tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Sedangkan
sesuatu yang tetap menurut Permenides adalah dari zaman dahulu hingga kini,
tetaplah manusia itu adalah ciptaan Tuhan jika kita berbicara dalam dimensi
spiritual.
Manusia
itu terbatas, terbatas terhadap dimensi ruang dan waktunya. Manusia tidak
mengetahui semua hakikat seluruh. Manusia hanya memahami sedikit hakikat,
bahkan yang sedikit itu saja belum tentu manusia memahami apalagi yang bersifat
menyeluruh. Bersyukurlah kita karena Tuhan memberikan keterbatasan terhadap
dimensi ruang dan waktu yang kita miliki. Pada dasarnya, filsafat adalah
kesadaran untuk mengetahui bahwa manusia adalah serba terbatas meliputi yang
ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu,
teruslah membaca, karena dengan menbaca kita tidak hanya dapat pikiran tetapi
juga hati kita. Membacalah agar kita mampu hidup dan menghidupkan, seimbang dan
menyeimbangkan, selaras dan menyelaraskan, bahagia dan membahagiakan, serta ikhlas
dan mengikhlaskan.
Langganan:
Postingan (Atom)







